Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam

Khutbah Iedul Adha 1446 H – Ust. Budi Santoso, Lc, M.H

Pentingnya Menanamkan Ketakwaan

Dalam jiwa ini perlu ditanamkan bahwa tujuan akhir sebuah ketakwaan dengan melaksanakan ibadah yang Allah  telah perintahkan serta menjauhi segala kemaksiatan sebenarnya adalah agar di dunia dan di akhirat kita mendapatkan kebaikan. Sebagaimana firman Allah :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”  (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Bersyukur atas Nikmat Allah 

Kita juga patut bersyukur kepada Allah  atas limpahan karunia dan ni’mat yang telah Allah  anugerahkan. Ia memberi kita kemampuan dan kemauan untuk menyelesaikan salat idul adha yang akan kita lanjutkan dengan ibadah kurban hari ini. Saat banyak orang terkulai lemah di atas pemberingan sampai-sampai butuh alat pernafasan, Allah  beri kita kesehatan. Hari ini saat banyak orang kelaparan karena tidak ada makanan, Allah  berikan kita rezeki yang cukup dan juga kelapangan. Demi Allah , nikmatnya pada kita sangat banyak sekali, lebih banyak dari tetesan air hujan. Di sisi lain, tidak semua orang merasakan apa yang kita dapatkan.

Sebagaimana firman Allah :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim: 7)

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilhamd.

Keagungan Hari Raya Idul Adha

Hari ini bukan hari biasa, hari ini adalah hari yang agung, hari ketika seluruh dunia Islam menegakkan syiar tauhid dan pengorbanan, hari ketika jutaan umat manusia di penjuru bumi mengumandangkan takbir, menyembelih hewan kurban, mengenakan pakaian terbaik dan bersujud penuh syukur kepada Allah .

Sebagaimana firman Allah :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)


Hakikat Pengorbanan dan Cinta kepada Allah 

Idul Adha bukan sekedar perayaan. Ia adalah panggilan jiwa. Panggilan untuk kita semua yang hidup di tengah dunia penuh cinta dan keterikatan untuk bertanya kepada diri sendiri: Adakah cinta kita yang lebih besar dari cinta kita kepada Allah ? Idul Adha bukan hanya tentang kambing, sapi, atau unta yang disembelih. Ia adalah simbol penyembelihan hal-hal yang kita cintai ketika cinta itu berpotensi menghalangi kita dari ketaatan. Ia adalah momentum untuk meneladani orang-orang yang telah membuktikan cintanya kepada Allah  dengan pengorbanan sejati.

Sebagaimana firman Allah :

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Jamaah sholat ‘Ied Rahimakumullah. 

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahi hamd.

Keteladanan Nabi Ibrahim dan Keluarganya

Hari ini kita kenal satu kisah penuh berkah, bukan sekedar dongeng indah, tapi petunjuk yang menuntun ke jalan lillah. Kita berbicara tentang Nabi kita Ibrahim Khalilurrahman, yang dimana Allah  telah mencintainya dan memberikan Taufik kepada Nabi kita Ibrahim alaihi salam. Disamping itu, Nabi kita Ibrahim alaihissalam senantiasa mencintai Allah , tak pernah gencar ataupun kendur. Ia bukan hanya berkata, tapi berkorban dalam sabar dan tawakkal, mengajarkan bahwa iman tak cukup di lisan, tapi harus total.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi’l hamd.

Ma’asyar al-muslimin, jemaah salat ‘iedul Adha, rahimakumullah. Kita lihat bagaimana Nabi kita Ibrahim alaihissalam meninggalkan keluarganya di tanah yang gersang atas perintah Allah . Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Ismail di sebuah lembah tandus yang telah menjadi kota Mekah. Bayangkan seorang ayah meninggalkan keluarganya, meninggalkan anak dan istrinya tercinta di tengah padang pasir tanpa persediaan yang cukup. Nabi Ibrahim yakin, cukuplah Allah  sebagai penjaganya. Bukan tega, bukan tak cinta, tapi lebih cinta pada Sang Pencipta dengan memenuhi perintah-Nya.

Sebagaimana firman Allah :

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat…”  (QS. Ibrahim: 37)


Maka ketika itu Hajar pun bertanya, “Allahu amara ka bihadza?” Apakah Allah  yang memerintahkan ini semua? Maka Nabi Ibrahim Alaihis Salam mengatakan, “Ya.” Maka apa yang dikatakan ibunda Hajar? “Idzan la yudhoyyiuna abadan.” Maka kalau memang itu adalah perintah Allah , niscaya Allah  tidak akan menyia-nyiakan kami. Beginilah keluarga yang tauhidnya tak tergoda dunia, dan mengedepankan cinta pada Allah  daripada orang terdekatnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi’l hamd.

Ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail

Ma’asyarul muslimin, a’azaniallahu waiyyakum. Kalau datang perintah yang mengguncangkan jiwa, menyembelih Ismail, putranya tercinta, namun Ibrahim tak ragu, tak menunda, dan Ismail pun siap dengan hati penuh sabar dan doa. Allah s ﷻ berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahi’l hamd.

Keteguhan Tauhid dan Perlindungan Allah 

Maashara’l muslimin, a’zani Allahu wa’ayyakum. Bahkan jauh sebelum itu, Nabi kita Ibrahim juga berani melawan berhala-berhala, menghancurkan sesembahan yang dijaga manusia buta mata dan logika. Ia dilempar ke dalam api yang membara, tapi Allah  melindunginya seraya berkata:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

“Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.'” (QS. Al-Anbiya: 69)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.

Hakikat Cinta Sejati kepada Allah 

Ma’asyarul muslimin, a’azaniallahu wa’iyyakum. Itulah hal mengajarkan bahwa cinta sejati bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan. Jika cinta kita kepada Allah  itu lebih besar, maka tentunya ini adalah yang diinginkan dalam agama kita, agama Islam. Jika cinta kita kepada sesuatu lebih besar daripada cinta kepada Allah , maka hal ini harus kita sembelih, harus kita adakan, harus kita perbaiki kembali tentang cinta kita kepada sesuatu selain Allah . Bukan untuk dihilangkan, tapi agar disucikan dan diarahkan.

Bayangkanlah Nabi Ibrahim AS meninggalkan anak dan istrinya di tanah yang gersang. Bayangkanlah Hajar sang istri yang dengan bayinya senantiasa pasrah dan yakin kepada Allah . Bayangkan Nabi Ismail menyerahkan lehernya untuk memenuhi perintah Tuhannya. Dan Nabi Ibrahim juga siap dimasukkan ke dalam api demi menegakkan Tauhid Ilahi. Mereka semua telah membuktikan cintanya kepada Allah . Pertanyaannya, bagaimana dengan kita semua?

Cinta adalah karunia, tapi bila tidak diarahkan pada Yang Maha Tercipta, Maha Pencipta, ia bisa menjadi jebakan dan malapetaka. Maka kita harus memperhatikan cinta kita pada sesuatu. Jangan pernah cinta tersebut melebihi cinta kita kepada Allah .

Sebagaimana firman Allah :

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”  (QS. Al-Baqarah: 165)


Cinta sejati kepada Allah  selalu diuji lewat pengorbanan. Apakah kita siap mengorbankan dunia demi menggapai akhirat kita? Apakah kita siap melepas ego demi perintah Allah ? Apakah kita siap lagi mencintai Allah  daripada harta, jabatan, bahkan orang yang kita sayang? Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Nabi kita Ibrahim AS dan menjadikan hidup kita sebagai bukti cinta kepada Allah , bukan hanya di lisan tapi dalam sikap dan pengorbanan nyata.

Mengikuti Sunnah Nabi Muhammad ﷺ

Ingatlah wahai kaum muslimin, ma’asyiral muslimin azaniallahu wa’iyyakum, bahwa cinta pada Allah  berarti harus mengikuti tuntunan Nabi Baginda kita Muhammad ﷺ

 dalam segala aspek kehidupan, baik dalam hal aqidah, ibadah, muamalah, adab maupun yang lainnya, yang dimana Allah  telah mengikrarkan dalam Firman-Nya:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Doa dan Harapan

Semoga Allah  menerima puasa Arofah kita dan menerima puasa Arofah kita yang kemarin kita kerjakan. Semoga Allah  menerima salat idul adha kita dan kurban yang akan kita tunaikan. Semoga Allah  menerima ibadah haji yang keluar ke teman dan semua kaum muslimin saat ini dilaksanakan. Semoga Allah  menolong saudara-saudara kita di mana saja yang sedang ditimpa musibah dan kedukaan. Semoga Allah ﷻ ampuni dosa-dosa kita semua, mematikan kita dalam keadaan husnul khatimah dan menjadikan surga sebagai tempat kita diabadikan.

Sebagaimana doa Nabi Ibrahim:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Ma’asyirah muslimin aazania Allah wa’iyatuh, mari kita berdoa kepada Allah  yang dimana Allah . telah menyampaikan kepada kita:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

✍🏻 Admin AL FALAH

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url