Ramadhan Usai, Iman Jangan Layu

Ramadhan Usai, Iman Jangan Layu

Liputan Khutbah Idulfitri di Lapangan Masjid Al-Falah TPA

Pagi itu, gema takbir menggema di langit. Wajah-wajah penuh harap dan bahagia memenuhi lapangan Masjid Al-Falah TPA. Namun di balik suasana kemenangan itu, khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Budi Santoso Afrizal, Lc., M.H., C.AFM, terasa begitu dalam, bukan sekadar merayakan akhir Ramadhan, tapi mengingatkan tentang perjalanan setelahnya.

“Ramadhan boleh pergi, tapi iman jangan sampai ikut layu.”

Nikmat yang Sering Kita Lupakan

Coba kita lihat sekeliling. Ada orang-orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun hari ini sudah tidak ada. Kita masih diberi umur, diberi kesempatan untuk sujud, untuk beribadah.

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah , niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Maka nikmat hari ini seharusnya bukan membuat kita lalai, tapi justru semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Ramadhan Pergi, Tapi Hidup Terus Berjalan

Ramadhan telah pergi. Ia tidak akan kembali, sebagaimana orang-orang yang telah kita antar ke liang lahat. Namun hidup kita belum selesai.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Bekal kita masih sedikit. Waktu terus berjalan. Maka yang tersisa sekarang adalah bagaimana kita melanjutkan apa yang sudah kita bangun di bulan Ramadhan.

Jangan Sampai Semua Ikut Pergi

Yang paling dikhawatirkan bukan Ramadhannya yang pergi, tapi amal kita yang ikut pergi bersamanya.

Al-Qur’an mulai ditinggalkan… Masjid kembali sepi… Dzikir mulai jarang… Silaturahmi mulai renggang… Dan jalan-jalan kembali dipenuhi maksiat…

Seakan-akan kita hanya mengenal Allah  di bulan Ramadhan saja.

Padahal, seburuk-buruknya seorang mukmin adalah yang hanya mengenal Allah  di bulan Ramadhan.

Allah Tetap Hidup, Bukan Hanya Ramadhan

Kalau kita hanya rajin beramal di bulan Ramadhan, maka Ramadhan itu sudah berlalu. Tapi ingat…

Allah tidak pernah berlalu. Allah tetap hidup.

Apakah istighfar kita ikut berhenti? Apakah doa kita ikut hilang? Seorang muslim sejati tidak mengenal waktu dalam beribadah, sampai kematian datang.

Istiqamah: Sedikit Tapi Terus

Yang Allah  nilai bukan hanya banyaknya amal, tapi seberapa lama amal itu bertahan.

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah  adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Amal yang kecil tapi istiqamah, akan lebih berat di timbangan daripada amal besar tapi hanya sesaat.

Perbanyak Doa

Jangan hanya berdoa saat sulit. Jika ingin Allah  mengabulkan doa saat sempit, maka perbanyaklah doa saat lapang.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Jangan Ujub, Takutlah Amal Tidak Diterima

Di sinilah bedanya kita dengan orang-orang shalih.

Kita sering merasa yakin amal kita diterima. Mereka justru takut amalnya ditolak.

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ
“Dan orang-orang yang beramal dengan hati yang takut...” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Semakin banyak amal mereka, semakin besar rasa takutnya. Karena mereka tahu, semua itu hanyalah karunia Allah .

Ibadah vs Maksiat

Maksiat terasa nikmat… tapi sebentar. Ibadah terasa berat… tapi menenangkan dan menetap.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang menahan diri dari hawa nafsu, maka surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Jangan Rusak Apa yang Sudah Dibangun

Orang yang meninggalkan ibadah setelah Ramadhan seperti orang yang menenun dengan susah payah, lalu merusaknya kembali.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
“Janganlah kamu seperti perempuan yang merusak benangnya setelah dipintal kuat.” (QS. An-Nahl: 92)

Ramadhan adalah madrasah. Tempat kita dilatih. Maka setelahnya, seharusnya kita menjadi lebih kuat, bukan kembali lemah.

Penutup: Jangan Sampai Ramadhan Kita Sia-Sia

Jika setelah Ramadhan kita kembali lalai, maka kita patut khawatir… jangan-jangan Ramadhan kita belum diterima.

Ya Allah, jagalah iman kami, jadikan kami mencintai kebaikan, dan membenci keburukan.

Idulfitri bukan akhir. Ia adalah awal perjalanan baru. Ramadhan telah pergi… tapi semoga iman kita tetap hidup.



Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url