Menyambut Bulan Suci dengan Persiapan Total
Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah musim ibadah yang nilainya sangat mahal, bahkan satu Ramadan yang berkualitas bisa mengangkat derajat seseorang sejauh jarak langit dan bumi. Karena itu, para ulama menasihatkan agar setiap mukmin menyikapi Ramadan seolah-olah inilah Ramadan terakhir dalam hidupnya. Cara pandang inilah yang akan melahirkan kesungguhan, keseriusan, dan totalitas dalam beramal.
Menyikapi Ramadan Seperti yang Terakhir
Seorang mukmin diminta membayangkan: bagaimana jika Ramadan ini adalah yang terakhir? Tentu ia akan beribadah dengan sepenuh hati, tidak menunda-nunda kebaikan, dan tidak menyia-nyiakan satu malam pun tanpa nilai ibadah.
Para ulama salaf mencontohkan perhatian yang luar biasa terhadap Ramadan. Mereka berdoa selama enam bulan sebelum Ramadan agar dipertemukan dengannya, dan enam bulan setelah Ramadan agar amal-amal mereka diterima oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang datang dan pergi, tetapi tentang diterima atau tidaknya amal.
Doa yang dianjurkan untuk terus dilantunkan menjelang Ramadan adalah:
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا
Artinya: “Ya Allah, sampaikanlah aku hingga Ramadan, selamatkanlah Ramadan untukku (mudahkan aku beribadah di dalamnya), dan terimalah Ramadan dariku sebagai amal yang Engkau terima.”
Keutamaan Umur yang Dipanjangkan Hingga Ramadan
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, diceritakan tentang dua orang sahabat yang masuk Islam bersamaan. Salah satunya lebih rajin berjihad dan wafat sebagai syahid, sementara yang lain wafat setahun setelahnya.
Dalam mimpi, sahabat yang hidup lebih lama justru dipersilakan masuk surga lebih dahulu. Ketika hal ini disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هٰذَا بَعْدَهُ سَنَةً؟ وَأَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَهُ، وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً مِنَ السَّنَةِ؟
Artinya: “Bukankah ia hidup setelahnya satu tahun, lalu ia mendapati Ramadan dan berpuasa, serta salat sekian dan sekian rakaat dalam setahun?”
Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa jarak keutamaan antara keduanya bagaikan jarak antara langit dan bumi, menunjukkan betapa besarnya nilai satu Ramadan yang diisi dengan amal berkualitas.
Persiapan Fisik Menjelang Ramadan
Ramadan adalah bulan jihad: jihad menahan lapar dan dahaga di siang hari (الصِّيَام), serta jihad bangun malam untuk qiyamul-lail (قِيَامُ اللَّيْل). Aktivitas utama Ramadan meliputi puasa, salat malam, tilawah Al-Qur’an, tadarus, dan sedekah. Semua ini membutuhkan kesiapan fisik.
Karena itu, disarankan melakukan pemanasan sebelum Ramadan, khususnya di bulan Sya'ban.
Dalil Puasa Sya'ban
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَعْبَانَ شَهْرًا كَامِلًا
Artinya: “Nabi ﷺ berpuasa di bulan Sya'ban hampir sebulan penuh.”
Selain puasa, dianjurkan pula memperbanyak tilawah Al-Qur’an sejak Sya'ban dan menyiapkan sedekah serta kebutuhan kegiatan Ramadan lebih awal agar bulan suci tidak habis untuk urusan duniawi.
Persiapan Batin: Membersihkan Dosa dan Hati
Dosa diibaratkan seperti beban berat di punggung. Semakin banyak dosa, semakin berat langkah seseorang menuju ketaatan. Inilah sebabnya mengapa sebagian orang merasa berat untuk qiyamul-lail, tilawah, dan amal besar lainnya.
Allah ﷻ berfirman:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ
Artinya: “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu, dan Kami telah menurunkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu.” (QS. Al-Insyirah: 1–3)
Ayat ini menunjukkan bahwa ringan atau beratnya langkah dalam ibadah sangat berkaitan dengan kondisi dosa dan hati seseorang.
Waspada dari Sifat Munafik
Allah ﷻ berfirman tentang orang munafik:
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى
Artinya: “Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa: 142)
Dan dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً ۖ وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
Artinya: “Kalau mereka sungguh-sungguh hendak keluar (berjihad), niscaya mereka mempersiapkan persiapan untuk itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan mereka.” (QS. At-Taubah: 46)
Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar kemalasan dalam ibadah, termasuk di Ramadan, tidak menjadi tanda terhalangnya seseorang dari kebaikan.
Membersihkan Hati Menjelang Ramadan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ إِلَى عِبَادِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya: “Sesungguhnya Allah melihat kepada hamba-hamba-Nya pada malam Nisfu Sya'ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
Karena itu, sebelum Nisfu Sya'ban dan sebelum Ramadan, seorang muslim dianjurkan menyelesaikan permusuhan, membersihkan hati dari dendam dan kebencian.
Strategi Memaksimalkan Ramadan
Agar Ramadan benar-benar optimal, diperlukan strategi yang jelas: memasang target tilawah, memperbanyak waktu bersama Al-Qur’an, dan mengurangi aktivitas yang tidak penting.
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata:
نِعْمَ صَوْمُ الرَّجُلِ بَيْتُهُ، يَمْنَعُهُ مِنْ مَعَاصِي اللَّهِ
Artinya: “Sebaik-baik tempat puasa seseorang adalah rumahnya; itu menghalanginya dari maksiat kepada Allah.”
Rumah dan masjid menjadi tempat terbaik untuk menjaga puasa agar tetap bernilai di sisi Allah ﷻ.