Kajian : 10 Kaidah Tentang Istiqomah
Kajian Sepuluh Kaidah Tentang Istiqomah
Muqoddimah
Sesungguhnya segala pujian hanya milik Allah ﷻ. Kita memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah ﷻ dari keburukan diri-diri kita dan dari kejelekan amal-amal kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah ﷻ maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah ﷻ semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, kepada keluarganya dan para sahabatnya dengan salam yang banyak.
Amma ba’du:
Sesungguhnya buku ini membahas tentang masalah istiqomah, dan ia adalah pembahasan yang sangat agung kedudukannya serta besar nilainya. Setiap muslim hendaknya memberikan perhatian yang besar terhadapnya, dengan perhatian yang sungguh-sungguh, baik dari sisi ilmu maupun pengamalan, serta memohon kepada Allah ﷻ agar diberi keteguhan di atasnya.
Banyak pertanyaan yang muncul seputar istiqomah: tentang hakikatnya, sebab-sebabnya, perkara-perkara yang membantu untuk meraihnya, serta berbagai permasalahan lain yang berkaitan dengannya.
Maka aku memandang bahwa termasuk hal yang bermanfaat adalah mengumpulkan beberapa kaidah penting yang mencakup pokok-pokok dalam pembahasan ini, yang dapat menjadi penolong bagiku dan bagi saudara-saudaraku, serta menjadi cahaya petunjuk dalam pembahasan yang agung ini.
Dan aku memohon kepada Allah ﷻ agar menjadikan amalku ini ikhlas karena wajah-Nya yang mulia dan agar Dia memberikan manfaat dengannya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.
1. Istiqomah adalah anugerah Ilahiyyah dan karunia Rabbaniyyah.
Di dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah ﷻ menyandarkan hidayah kepada diri-Nya sendiri. Seluruh perkara berada di tangan-Nya. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Di tangan-Nya hati para hamba. Siapa yang Dia kehendaki, Dia teguhkan di atas jalan-Nya yang lurus, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia palingkan darinya.
Allah ﷻ berfirman (QS. An-Nisa: 66–68) “Dan sungguh, jika Kami perintahkan kepada mereka: ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, tentu itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). Dan kalau demikian, pasti Kami akan memberikan kepada mereka dari sisi Kami pahala yang besar. Dan pasti Kami akan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.”
Karena itu, kaidah pertama dalam istiqomah adalah: istiqomah itu berada di tangan Allah ﷻ. Siapa yang menginginkannya hendaklah ia memohon kepada Allah ﷻ dengan penuh kejujuran dan kesungguhan.
2. Hakikat istiqomah adalah berpegang teguh pada jalan yang lurus, baik secara lahir maupun batin.
Hakikat istiqomah adalah menempuh jalan yang lurus, yaitu agama yang tegak tanpa penyimpangan sedikit pun, baik ke kanan maupun ke kiri. Ini mencakup seluruh ketaatan, baik yang lahir maupun batin, serta meninggalkan seluruh larangan.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata tentang firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqomah…” Beliau berkata: “(Maksudnya) mereka tidak menyekutukan Allah ﷻ dengan sesuatu apa pun.”
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Mereka istiqomah di atas ketaatan dan tidak berkelok-kelok seperti kelokan rubah.”
3. Asal (pokok) dari istiqomah adalah istiqomahnya hati.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Tidak akan istiqomah iman seorang hamba sampai hatinya istiqomah.” (HR. Ahmad)
Asal istiqomah adalah istiqomahnya hati di atas tauhid. Jika hati telah istiqomah, maka anggota badan akan ikut istiqomah mengikutinya.