SIFAT RIDHA ALLAH DAN TIGA PERKARA YANG DIRIDHAI SERTA DIBENCI ALLAH
SIFAT RIDHA ALLAH DAN TIGA PERKARA YANG DIRIDHAI SERTA DIBENCI ALLAH
Pembahasan kali ini mengkaji tentang Sifat Ridha Allah, tiga perkara yang diridhai dan dibenci Allah, serta amalan dan orang-orang yang mendatangkan ridha-Nya.
1. Tiga Perkara yang Diridhai Allah
Tiga perkara yang diridhai Allah tersebut adalah:
- Tauhid yang murni: Beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
- Berpegang teguh pada tali Allah: Berpegang seluruhnya pada agama Allah (Al-Qur'an dan Sunnah) dan tidak bercerai-berai.
- Menasihati pemimpin: Saling menasihati dengan pemimpin atau penguasa yang telah Allah kuasakan atas urusan kalian.
2. Tiga Perkara yang Dibenci Allah
Adapun tiga perkara yang sangat dibenci Allah adalah:
-
Qila wa qala (katanya-katanya): Membicarakan dan menyebarkan perkataan yang tidak jelas sumbernya. Tidak semua berita boleh disebarkan, bahkan yang benar sekalipun apabila berpotensi menimbulkan kepanikan; penyampaiannya harus diserahkan kepada pihak yang berwenang.
“Cukuplah seseorang disebut pendusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim).
Teladan Ummu Sulaim: Ibunda Anas bin Malik, ketika anaknya wafat saat suaminya (Abu Thalhah) pergi, ia tidak langsung mengabarkannya seketika suaminya tiba di rumah. Ia menutupi jenazah anaknya, berdandan, melayani suaminya hingga tenang, baru kemudian menyampaikan kabar tersebut dengan lembut. Menyampaikan kabar yang benar pun harus memperhatikan cara dan waktu. Rasulullah ﷺ bersabda: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi). Qila wa qala jelas termasuk perkara yang tidak bermanfaat. -
Katsratus su'al (Banyak bertanya dan meminta):
- Meminta-minta harta: Hukumnya haram bagi orang yang berkecukupan. Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa meminta-minta padahal dirinya tidak fakir (punya kecukupan), maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad). Terlebih lagi meminta dengan memakai nama Allah; nama Allah terlalu agung untuk dipakai demi hal yang rendah.
- Banyak bertanya tentang hal yang tidak bermanfaat: Pada masa sahabat, pertanyaan berlebih bisa mendatangkan kewajiban baru. Contohnya saat seseorang bertanya apakah haji wajib setiap tahun; Nabi ﷺ diam hingga ditanya tiga kali, lalu menegaskan jika dijawab "ya", maka akan diwajibkan dan umat tidak akan mampu. Yang halal dan haram telah dijelaskan, dan yang didiamkan adalah rahmat. Tinggalkan pertanyaan yang tidak menambah iman dan tidak dapat diamalkan.
- Idha'atul mal (Menyia-nyiakan harta): Menghamburkan harta pada hal yang tidak bermanfaat, seperti membeli barang hanya untuk dikoleksi tanpa dipakai—sepatu atau pakaian yang menumpuk tanpa digunakan atau diinfakkan. Jika dipakai, itu tidak termasuk menyia-nyiakan. Mengingat setiap rupiah akan dihisab oleh Allah, pastikan setiap barang yang dibeli benar-benar dimanfaatkan.
3. Ridha Allah terhadap Amalan
Allah ridha terhadap suatu amalan dan tidak ridha terhadap amalan yang lain. Allah ﷻ berfirman:
Ayat ini menunjukkan bahwa ridha Allah sangat berkaitan erat dengan amalan hamba; Dia tidak meridhai kekufuran, namun meridhai kesyukuran.
4. Orang yang Beramal yang Diridhai Allah
- Orang yang ridha ketika diuji: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan (Allah), dan barang siapa murka, maka baginya kemurkaan (Allah).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Sebaliknya, orang yang marah dan berburuk sangka kepada Allah ketika diuji pasti akan dimurkai-Nya.
- Orang yang memuji Allah setelah makan/minum: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah sungguh ridha kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan lalu memujinya, atau meminum suatu minuman lalu memujinya.” (HR. Muslim).
5. Hakikat Sifat Ridha Allah
Ridha adalah sifat yang ada pada diri Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia merupakan sifat hakiki sekaligus sifat perbuatan (fi'liyah). Allah bisa ridha kepada kaum tertentu, amalan tertentu, maupun
