Mahabbah kepada Allah - Kajian Kamis Malam

 


Mahabbah (المَحَبَّةُ) berarti cinta. Dalam pembahasan akidah, mahabbah merupakan salah satu sifat Allah yang ditetapkan berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ...

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya...”

(QS. Al-Ma'idah: 54)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah benar-benar memiliki sifat mencintai. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, dan kecintaan Allah tentu sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya. Mahabbah Allah tidak boleh dibayangkan atau diserupakan dengan cinta yang dimiliki makhluk.

Mahabbah Bukan Sekadar Iradah

Dalam pembahasan sifat Allah, terdapat sebagian kelompok ahli bid'ah yang menolak penetapan sifat mahabbah bagi Allah. Mereka menakwil mahabbah hanya sebagai iradah atau kehendak. Ada pula yang menetapkan bahwa Allah memiliki nama Al-Wadud, tetapi tidak menetapkan adanya sifat cinta bagi Allah.

Padahal, iradah dan mahabbah merupakan dua sifat yang berbeda.

Tidak semua yang Allah kehendaki berarti Allah cintai secara syar'i. Allah dapat menghendaki terjadinya sesuatu berdasarkan hikmah dan takdir-Nya, tetapi sesuatu tersebut belum tentu merupakan sesuatu yang Allah cintai.

Sebagai contoh, kekufuran terjadi dengan kehendak kauni Allah dan berada dalam takdir-Nya. Namun, Allah tidak mencintai kekufuran tersebut secara syar'i. Allah justru melarang hamba-Nya dari kekufuran dan memerintahkan mereka untuk beriman.

Dengan demikian, kita tidak boleh menyamakan antara apa yang Allah kehendaki terjadi dengan apa yang Allah cintai secara syar'i.

Pembagian Sifat Allah

Para ulama menjelaskan bahwa sifat-sifat Allah dapat ditinjau dari beberapa sisi. Salah satu pembagian yang umum digunakan adalah sifat dzatiyah dan sifat fi'liyah.

Sifat dzatiyah (الصِّفَاتُ الذَّاتِيَّةُ) adalah sifat yang senantiasa melekat pada Allah dan tidak terpisah dari-Nya. Di antaranya adalah ilmu, kehidupan, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan.

Sedangkan sifat fi'liyah (الصِّفَاتُ الفِعْلِيَّةُ) adalah sifat yang berkaitan dengan kehendak dan perbuatan Allah. Allah melakukannya sesuai dengan kehendak-Nya; jika Dia menghendaki, Dia melakukannya, dan jika Dia tidak menghendaki, Dia tidak melakukannya.

Di antara contoh sifat fi'liyah adalah mencintai (mahabbah), ridha, marah, turun, dan datang.

Mahabbah termasuk sifat fi'liyah karena berkaitan dengan kehendak Allah. Allah mencintai siapa yang Dia kehendaki, dan Allah mencintai hamba-hamba-Nya dengan sebab-sebab yang Dia tetapkan.

Bagaimana Seharusnya Kita Memahami Sifat Allah?

Ketika berbicara tentang nama dan sifat Allah, kita harus berhati-hati agar tidak terjatuh pada sikap yang menyimpang.

Prinsipnya adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dan apa yang Rasulullah ﷺ tetapkan bagi-Nya, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.

Dalam hal ini, kita tidak boleh melakukan tahrif, yaitu memalingkan makna sifat dari makna yang benar; ta'thil, yaitu menolak atau meniadakan sifat Allah; takyif, yaitu membahas atau menentukan bagaimana hakikat sifat tersebut; dan tamtsil, yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.

Kita menetapkan bahwa Allah mencintai, tetapi kita tidak mengatakan bagaimana hakikat cinta Allah. Sebab, hakikat sifat Allah tidak dapat disamakan dengan sifat makhluk.

Apakah Cinta Allah Sama dengan Cinta Manusia?

Jawabannya tentu tidak.

Allah ﷻ berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini merupakan salah satu kaidah penting dalam memahami sifat-sifat Allah.

Kita menetapkan bahwa Allah memiliki sifat mahabbah, tetapi mahabbah Allah tidak sama dengan mahabbah makhluk. Demikian pula sifat Allah yang lain seperti marah, ridha, ilmu, pendengaran, dan penglihatan. Allah memiliki sifat-sifat tersebut dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya dan tidak menyerupai makhluk.

Karena itu, dalam memahami sifat Allah, kita menetapkan sifatnya tanpa menyerupakan hakikatnya dengan makhluk.

Mengapa Kita Perlu Memahami Mahabbah Allah?

Memahami mahabbah Allah memiliki kedudukan penting bagi seorang muslim. Pertama, mahabbah merupakan salah satu sifat Allah. Seorang muslim perlu mengenal Rabb-nya melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, diharapkan semakin besar pula rasa cinta, takut, berharap, dan pengagungannya kepada Allah.

Kedua, cinta kepada Allah merupakan bagian penting dari ibadah. Ibadah seorang muslim tidak hanya dibangun di atas rasa takut kepada Allah, tetapi juga rasa cinta dan harapan kepada-Nya. Para ulama sering menjelaskan bahwa ibadah dibangun di atas tiga perkara: mahabbah (cinta), khauf (takut), dan raja' (harap).

Ketiga, seorang muslim tidak cukup hanya bertanya, “Apakah saya mencintai Allah?” Ada pertanyaan yang tidak kalah penting, yaitu:

“Apakah Allah mencintai saya?”

Sebab, tujuan seorang hamba bukan hanya memiliki perasaan cinta kepada Allah, tetapi juga mendapatkan kecintaan Allah.

Keempat, cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan yang berada di dalam hati. Mahabbah memiliki bukti dan konsekuensi. Orang yang benar-benar mencintai Allah akan berusaha melakukan perkara-perkara yang Allah cintai dan meninggalkan perkara-perkara yang Allah benci.

Bagaimana Membuktikan Cinta kepada Allah?

Lalu, bagaimana seseorang membuktikan bahwa dirinya benar-benar mencintai Allah?

Allah ﷻ telah memberikan jawabannya dalam Al-Qur'an:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. Ali 'Imran: 31)

Ayat ini memberikan petunjuk yang sangat jelas. Jika seseorang mengaku mencintai Allah, maka bukti cintanya adalah mengikuti Rasulullah ﷺ.

Dengan demikian, hubungan antara cinta kepada Allah dan mengikuti Rasulullah ﷺ dapat digambarkan secara sederhana:

Cinta kepada Allah → mengikuti Rasulullah ﷺ → mendapatkan kecintaan Allah → mendapatkan ampunan Allah.

Maka, seseorang tidak bisa mengatakan, “Saya mencintai Allah, sehingga saya bebas beribadah dengan cara apa pun yang saya anggap baik.”

Cinta kepada Allah harus diwujudkan dengan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Cara beribadah kepada Allah bukan ditentukan oleh perasaan, selera, atau sekadar anggapan bahwa suatu amalan itu baik, tetapi harus berdasarkan petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

Ibadah Harus Mengikuti Tuntunan Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah harus memiliki landasan dari syariat. Tidak cukup seseorang beralasan bahwa ia melakukan suatu amalan karena mencintai Allah atau karena menganggap amalan tersebut baik.

Justru, salah satu bukti kecintaan kepada Allah adalah mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Mahabbah berarti cinta dan merupakan salah satu sifat Allah yang ditetapkan berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Kita menetapkan bahwa Allah mencintai, tetapi kita tidak menyerupakan kecintaan Allah dengan kecintaan makhluk.

Memahami mahabbah juga mengajarkan kepada kita bahwa ibadah kepada Allah tidak hanya dibangun di atas rasa takut, tetapi juga di atas cinta dan harapan.

Namun, cinta kepada Allah bukan sekadar pengakuan. Cinta memiliki bukti. Dan Allah sendiri telah menjelaskan bahwa bukti cinta kepada-Nya adalah mengikuti Rasulullah ﷺ:

فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali 'Imran: 31)

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mencintai-Nya, dicintai oleh-Nya, serta dimudahkan untuk mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahu a'lam.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url