Sholat Idul Adha Masjid Al Falah TPA
Sholat Idul Adha 1447 H Masjid Al Falah TPA Berlangsung Khidmat
Khotib mengangkat Tema “Semakin Dicintai Semakin Diuji” Suasana penuh kekhusyukan dan kebersamaan menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriyah di Masjid Al Falah TPA pada Rabu pagi, 10 Dzulhijjah 1447 H | 27 Mei 2026. Kegiatan dilaksanakan di lapangan bulutangkis sebelah Masjid Al Falah TPA dan dihadiri oleh ratusan jamaah dari berbagai kalangan masyarakat.
Sejak pagi hari, gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang memenuhi area pelaksanaan sholat Ied. Jamaah tampak mulai berdatangan sejak matahari belum tinggi. Anak-anak mengenakan pakaian terbaik mereka, para orang tua hadir bersama keluarga, sementara para pemuda dan masyarakat sekitar turut membantu mempersiapkan lokasi agar pelaksanaan ibadah berjalan tertib dan nyaman.
Pelaksanaan Sholat Idul Adha tahun ini dipimpin oleh Ustadz Abu Unaisah Eko S. yang sekaligus menyampaikan khutbah bertema:
“Semakin Dicintai Semakin Diuji”
Dalam khutbahnya, beliau mengingatkan bahwa Idul Adha bukan sekadar hari raya untuk bergembira, makan dan minum, ataupun rutinitas penyembelihan hewan qurban. Akan tetapi, Idul Adha adalah momentum besar untuk kembali menghidupkan keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan keluarganya dalam hal ketaatan, kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan demi menjalankan perintah Allah ﷻ.
Beliau membuka khutbah dengan mengingatkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang merupakan hari-hari paling mulia untuk beramal shalih. Dalam khutbahnya beliau membawakan hadits Rasulullah ﷺ:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).”
Beliau juga menjelaskan bahwa Hari Raya Idul Adha adalah hari yang paling agung di sisi Allah ﷻ sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ
“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr (Idul Adha).”
Nabi Ibrahim: Kekasih Allah yang Paling Banyak Diuji
Dalam inti khutbahnya, Ustadz Abu Unaisah Eko menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam merupakan sosok nabi yang sangat dicintai Allah ﷻ hingga diberi gelar Khalilullah.
Allah ﷻ berfirman:
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
“Dan Allah ﷻ menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.”
Namun meskipun memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ﷻ, kehidupan Nabi Ibrahim 'alaihis salam justru dipenuhi dengan berbagai ujian berat.
Beliau menyampaikan hadits Rasulullah ﷺ:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal dengan mereka.”
Menurut beliau, inilah pelajaran besar bagi kaum muslimin bahwa semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar pula ujian yang Allah ﷻ berikan kepadanya.
Dakwah Tauhid yang Ditolak Keluarga Sendiri
Salah satu ujian Nabi Ibrahim yang disampaikan dalam khutbah adalah ketika beliau berdakwah kepada ayah dan kaumnya agar meninggalkan penyembahan berhala.
Namun dakwah tersebut justru mendapat penolakan keras bahkan ancaman dari ayah beliau sendiri.
Allah ﷻ mengabadikan ucapan ayah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dalam Al-Qur’an:
لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ
“Jika engkau tidak berhenti, pasti aku akan merajammu.”
Menurut Ustadz Abu Unaisah Eko, ini adalah ujian yang sangat berat karena fitrah manusia tentu ingin dicintai dan diterima keluarganya. Akan tetapi Nabi Ibrahim 'alaihis salam lebih mendahulukan tauhid dan ketaatan kepada Allah ﷻ dibandingkan rasa nyaman dan penerimaan manusia.
Diuji dengan Api yang Membara
Khutbah kemudian berlanjut pada kisah ketika Nabi Ibrahim 'alaihis salam dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup oleh kaumnya setelah menghancurkan berhala-berhala mereka.
Kaumnya berkata:
قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ
“Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian.”
Namun di tengah ujian yang sangat berat tersebut, Nabi Ibrahim 'alaihis salam tetap bertawakal penuh kepada Allah ﷻ. Hingga akhirnya Allah ﷻ menyelamatkan beliau dengan firman-Nya:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
“Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”
Beliau menjelaskan bahwa pertolongan Allah ﷻ akan datang kepada hamba yang benar-benar berserah diri dan bertawakal kepada-Nya.
Lama Menanti Keturunan
Dalam khutbahnya, beliau juga mengangkat kisah Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang diuji bertahun-tahun belum memiliki keturunan meskipun usia beliau telah sangat tua.
Namun Nabi Ibrahim 'alaihis salam tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah ﷻ dan terus berdoa:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku anak yang saleh.”
Hingga akhirnya Allah ﷻ mengaruniakan Nabi Ismail 'alaihis salam dan Nabi Ishaq 'alaihis salam sebagai jawaban atas doa dan kesabaran beliau 'alaihis salam.
Ujian Terbesar: Perintah Menyembelih Nabi Ismail
Bagian khutbah yang paling menyentuh adalah ketika membahas ujian terbesar Nabi Ibrahim 'alaihis salam, yaitu perintah untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail ‘alaihis salam.
Setelah sekian lama menanti kehadiran seorang anak, Allah ﷻ justru menguji beliau dengan perintah yang sangat berat bagi hati seorang ayah.
Nabi Ibrahim 'alaihis salam berkata kepada putranya:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”
Dan Nabi Ismail 'alaihis salam menjawab dengan penuh ketaatan:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Menurut beliau, inilah puncak cinta kepada Allah ﷻ, yaitu ketika seorang hamba lebih mendahulukan perintah Allah ﷻ di atas segala bentuk cinta dunia.
Ujian Bisa Jadi Bentuk Cinta Allah
Dalam bagian akhir khutbahnya, Ustadz Abu Unaisah Eko mengingatkan jamaah agar tidak selalu memandang ujian sebagai keburukan.
Beliau membawakan hadits Rasulullah ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka.”
Beliau juga menyampaikan bahwa ujian dapat menjadi sebab diangkatnya derajat seorang hamba, dihapusnya dosa-dosa, dan menjadi jalan menuju surga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ
“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian.”
Tak sedikit jamaah tampak larut dalam perenungan ketika khutbah membahas makna kesabaran, pengorbanan, dan pentingnya berbaik sangka kepada Allah ﷻ di tengah ujian kehidupan.
Momentum Mempererat Ukhuwah Islamiyah
Pelaksanaan Sholat Idul Adha di Masjid Al Falah TPA tahun ini juga menjadi momentum mempererat ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat. Setelah sholat dan khutbah selesai, jamaah tampak saling bersalaman dan bermaafan dengan penuh kehangatan.
Hari raya Idul Adha tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga pengingat bahwa kehidupan seorang muslim tidak lepas dari ujian. Namun di balik setiap ujian terdapat kasih sayang Allah ﷻ bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar dan tetap istiqamah dalam ketaatan.
Semoga Allah ﷻ menerima amal ibadah kaum muslimin di hari-hari mulia Dzulhijjah ini, menerima ibadah qurban yang ditunaikan, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang sabar, ikhlas, dan dicintai-Nya.
تقبل الله منا ومنكم، تقبل يا كريم
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Tim Media Masjid Al Falah