Mahabbah Allah: Ihsan dan Keadilan
Dalam kajian Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, pembahasan dilanjutkan pada sifat mahabbah Allah, yaitu kecintaan Allah سبحانه وتعالى kepada hamba-Nya.
Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang memiliki sifat-sifat tertentu. Di antara yang dibahas dalam kajian ini adalah orang-orang yang berbuat ihsan dan orang-orang yang berlaku adil.
Allah Mencintai Orang yang Berbuat Ihsan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan berbuatlah ihsan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Ihsan berarti berbuat baik. Jika berkaitan dengan hubungan kepada manusia, ihsan dapat dilakukan melalui harta, ucapan, maupun perbuatan.
Ihsan juga lebih tinggi daripada sekadar adil. Adil berarti memberikan atau membalas sesuatu secara sebanding, sedangkan ihsan adalah memberikan kebaikan yang lebih.
Misalnya, ketika seseorang memaki kita, membalas dengan makian yang sama tanpa melampaui batas termasuk keadilan. Namun ketika kita memilih untuk memaafkan, maka itu merupakan ihsan.
Demikian pula dalam masalah utang. Menuntut pembayaran sesuai hak merupakan keadilan. Namun memberikan kelonggaran kepada orang yang belum mampu membayar merupakan bentuk ihsan.
Ihsan dalam Ibadah
Ihsan tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada manusia, tetapi juga dalam hubungan seorang hamba dengan Allah.
Dalam Hadis Jibril, Rasulullah ﷺ menjelaskan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Ihsan dalam ibadah berarti berusaha melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya, dengan menghadirkan keyakinan bahwa Allah selalu melihat kita.
Karena itu, jangan sampai tujuan kita dalam ibadah hanya sekadar “yang penting sah”. Seorang muslim hendaknya berusaha melakukan amal dengan sempurna dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Hal ini dapat dilihat dalam shalat dan wudhu. Wudhu tidak hanya dilakukan agar sah, tetapi hendaknya dipelajari bagaimana cara wudhu yang sempurna sesuai tuntunan Nabi ﷺ. Demikian pula shalat, hendaknya dilakukan dengan memperhatikan kesempurnaan dan kekhusyukannya.
Ihsan Membutuhkan Ilmu
Untuk dapat beramal dengan ihsan, seseorang membutuhkan ilmu.
Karena itu, ilmu agama harus terus dipelajari dan diulang. Jangan merasa cukup hanya karena suatu pelajaran sudah pernah dipelajari.
Ilmu perlu murojaah, sebagaimana para ulama dahulu terus mengulang dan mempelajari kembali ilmu yang telah mereka kuasai.
Dengan ilmu, seseorang mengetahui bagaimana cara beribadah yang benar. Setelah mengetahui, ia mengamalkan. Kemudian amal tersebut terus diperbaiki hingga menjadi lebih sempurna.
Maka untuk mencapai ihsan:
Belajar → memahami → mengamalkan → memperbaiki amal.
Allah Mencintai Orang yang Berlaku Adil
Pembahasan berikutnya adalah tentang orang-orang yang berlaku adil.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujurat: 9)
Orang yang berlaku adil disebut muqsiṭ. Adil berarti memberikan hak secara benar dan tidak melakukan kezaliman.
Keadilan bukan sesuatu yang mudah ketika berkaitan dengan kepentingan pribadi. Terlebih ketika yang terlibat adalah keluarga sendiri.
Misalnya, ketika terjadi perselisihan antara keluarga kita dengan orang lain dan kita menjadi saksi. Jika ternyata keluarga kita yang salah, kita tetap harus berkata jujur dan berlaku adil meskipun hal tersebut dapat merugikan keluarga kita.
Di sinilah keadilan benar-benar diuji.
Adil Tidak Boleh Dipengaruhi Perasaan
Seseorang tidak boleh meninggalkan keadilan hanya karena memiliki kecenderungan kepada seseorang atau suatu kelompok.
Allah berfirman:
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 8)
Maka keadilan harus tetap ditegakkan meskipun kita tidak menyukai seseorang.
Adil bukan hanya ucapan, tetapi harus diterapkan ketika menghadapi keadaan yang sulit.
Penutup
Dari pembahasan ini dapat dipahami bahwa mahabbah Allah harus kita raih dengan memperbaiki amal dan akhlak.
Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan dan orang-orang yang berlaku adil.
Ihsan mengajarkan kita untuk memperbaiki kualitas ibadah dan berbuat baik kepada manusia. Sedangkan keadilan mengajarkan kita untuk memberikan hak secara benar dan tidak menzalimi orang lain.
Untuk mencapai keduanya, kita membutuhkan ilmu, belajar terus-menerus, murojaah, dan kesungguhan dalam memperbaiki amal.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berbuat ihsan, berlaku adil, dan mendapatkan kecintaan-Nya.
waAllahu A'lam