Dua Kebahagiaan Orang Berpuasa
Kultum Malam ke-8 Ramadhan
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, ia adalah madrasah untuk merasakan manisnya iman. Dalam kultum sebelum tarawih malam ke-8 Ramadhan, Ustadz Endang Sutedi, Lc. menyampaikan pesan yang sangat menyentuh: setiap ibadah memiliki kelezatan, dan hanya orang yang sabar yang akan merasakannya.
Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan:
-
Bahagia saat berbuka (farhatun ‘inda fithrihi)
Kebahagiaan ini bukan hanya karena bisa makan dan minum setelah seharian menahan diri. Lebih dalam dari itu, ada rasa lega dan syukur karena telah menyelesaikan satu bentuk ketaatan kepada Allah.
-
Bahagia saat berjumpa dengan Allah (farhatun ‘inda liqā’i rabbih)
Inilah kebahagiaan yang lebih besar. Saat seorang hamba bertemu Rabb-nya dan mendapati pahala puasanya dibalas langsung oleh Allah ﷻ
Puasa adalah ibadah yang istimewa. Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa Allah ﷻ berfirman, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Betapa agungnya ibadah ini hingga balasannya langsung dari Allah tanpa perantara.
Setiap Ketaatan Memiliki Kelezatan
Salah satu poin utama dalam kultum malam ke-8 adalah tentang halāwah al-ṭā‘ah — manisnya ketaatan.
Setiap amal ibadah, baik shalat, puasa, zakat, maupun haji, memiliki rasa nikmat tersendiri. Namun, kelezatan itu tidak datang otomatis. Ia hadir melalui kesabaran.
Orang yang bersabar dalam ketaatan akan merasakan:
- Lega setelah berhasil menahan diri
- Tenang setelah menyelesaikan shalat
- Bahagia setelah menuntaskan puasa
Sebaliknya, jika ibadah dilakukan tergesa-gesa dan sekadar menggugurkan kewajiban, maka rasa nikmat itu sulit dirasakan.
Menikmati Shalat, Bukan Sekadar Menyelesaikannya
Seringkali kita shalat dengan target “cepat selesai”. Padahal shalat adalah momen paling intim antara hamba dan Rabb-nya.
Bagaimana cara menikmati shalat?
- Sabar sejak takbiratul ihram
- Menghayati bacaan Al-Fatihah
- Menyimak ayat-ayat Al-Qur’an dengan hati
- Menikmati rukuk dan sujud
- Tidak tergesa-gesa
- Memanfaatkan waktu sebelum salam untuk berdoa
Sujud bukan sekadar gerakan. Ia adalah posisi terdekat seorang hamba dengan Allah ﷻ. Di sanalah hati bisa benar-benar tenang.
Jika shalat dinikmati, ia menjadi penyejuk jiwa. Tapi jika hanya dijadikan rutinitas, ia terasa berat dan membosankan.
Pelajaran dari Hal Sederhana: Menikmati Makan
Ustadz Endang memberikan analogi sederhana: makan.
Agar makanan terasa nikmat:
- Kita harus lapar terlebih dahulu
- Kita makan dengan perlahan
- Tidak tergesa-gesa
Kalau sedang kenyang lalu dipaksa makan, tentu tidak terasa nikmat. Begitu pula ibadah. Jika hati tidak dipersiapkan dan dilakukan dengan terburu-buru, kenikmatannya sulit hadir.
Bahkan Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa jika makanan sudah terhidang dan waktu shalat tiba, maka makanlah terlebih dahulu agar shalat bisa dilakukan dengan khusyuk. Ini menunjukkan bahwa kesiapan jiwa sangat penting dalam ibadah.
Mengatasi Galau dan Stres dengan Memperbaiki Ibadah
Di bagian akhir kultum, disinggung fenomena banyaknya orang yang:
- Mudah gelisah
- Cepat stres
- Sedikit masalah langsung pusing
Salah satu solusinya adalah memperbaiki kualitas ibadah.
Coba evaluasi:
- Apakah shalat kita benar-benar dinikmati?
- Apakah doa kita sungguh-sungguh?
- Apakah puasa kita hanya menahan lapar atau juga menahan hati?
Ketika ibadah dilakukan dengan penuh kesadaran dan kesabaran, ia akan menenangkan hati. Karena pada hakikatnya, manusia memang diciptakan untuk beribadah. Jiwa akan gelisah jika jauh dari Rabb-nya.
Teladan dari Shalat Malam Nabi ﷺ
Dikisahkan oleh Abdullah bin Abbas, yang pernah ikut shalat malam bersama Nabi ﷺ saat masih kecil. Beliau menyaksikan Rasulullah berdiri sangat lama dalam qiyamullail.
Itu bukan karena terpaksa. Itu karena beliau menikmati ibadahnya.
Shalat malam adalah contoh nyata bagaimana seorang hamba benar-benar tenggelam dalam munajat kepada Allah.
Pendidikan Ibadah Sejak Dini
Pesan penting lainnya adalah tentang pendidikan anak.
Anak-anak tidak cukup hanya disuruh ke masjid. Mereka perlu:
- Diajari tata cara shalat dengan benar
- Dibimbing memahami makna bacaan
- Diajari adab di masjid
- Dikenalkan pada manisnya ibadah
Jika sejak kecil sudah terbiasa menikmati ibadah, maka ketika dewasa mereka tidak akan merasa terbebani.
Ramadhan dan Manisnya Iman
Malam ke-8 Ramadhan mengajarkan kita satu hal penting:
Ibadah bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan jiwa.
Puasa memiliki dua kebahagiaan.
Setiap ketaatan memiliki kelezatan.
Dan kesabaran adalah kunci untuk merasakannya.
Semoga Ramadhan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi momen kita benar-benar merasakan manisnya iman.
✍🏻 Tim Media Al Falah
Donasi kegiatan Ramadhan? klik disini